jelek

jelek
plaza kampus lantai 3

Kamis, 17 November 2011

makalah strategi belajar mengajar


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia berkembang begitu pesatnya. Agar kita tidak tertinggal dan tidak ditinggalkan oleh era yang berubah cepat, maka kita harus sadar bahwa pendidikan itu sangat penting. Tantangan dunia pendidikan kedepan adalah mewujudkan proses demokratisasi belajar, pembelajaran yang mengakui hak anak untuk melakukan tindakan belajar sesuai karakteristiknya. Hal penting yang perlu ada dalam lingkungan belajar yang demokratis adalah realness, sadar bahwa anak memiliki kekuatan disamping kelemahan, memiliki keberanian disamping rasa takut dan kecemasan, bisa marah dan juga bisa gembira.
Belajar mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tapi memang memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar siswa/subjek belajar untuk memperoleh perubahan serta kesadaran diri.
Secara luas teori belajar selalu dikaitkan dengan ruang lingkup, bidang psikologi atau bagaimanapun juga. Membicarakan masalah belajar ialah membicarakan sosok manusia. Ini dapat diartikan bahwa ada beberapa ranah yang harus mendapat perhatian. Ranah-ranah itu ialah ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Dengan seiring perkembangan zaman, teori belajar juga akan selalu berkembang, dan masing-masing teori ini mempunyai dampak langsung terhadap pembelajaran.
Dari uraian di atas maka dipandang perlu bagi seorang pendidik untuk memahami tentang perkembangan teori belajar mengajar dan implikasinya serta memahami aliran-aliran psikologi tingkah laku dan psikologi kognitif.

B. Rumusan Pertanyaan
Dalam penulisan makalah ini, rumusan pertanyaan yag diambil adalah sebagai berikut.
1.    Bagaimanakah implikasi perkembangan teori belajar mengajar itu?
2.    Apakah yang disebut dengan aliran psikologi tingkah laku?
3.    Apakah yang disebut dengan aliran psikologi kognitif?

C. Tujuan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.    Agar pembaca mengetahui tentang perkembangan teori belajar mengajar dan implikasinya dalam kegiatan belajar mengajar.
2.    Agar pembaca mengetahui dan memahami tentang aliran psikologi tingkah laku.
3.    Agar pembaca mengetahui dan memahami tentang aliran psikologi kognitif.
D. Manfaat Penulisan
Adapun penyusunan makalah ini bermanfaat secara:
1.    Teoritis, untuk mengkaji ilmu pendidikan khususnya dalam memahami perkembangan teori belajar mengajar dan implikasinya, aliran psikologi tingkah laku, dan aliran psikologi kognitif.
2.    Praktis, bermanfaat bagi:
a)    Para pendidik, agar pendidik tidak salah persepsi tentang teori belajar mengajar yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran.
b)    Mahasiswa, agar memahami perkembagan teori belajar mengajar dan implikasinya, aliran psikologi tingkah laku, dan aliran psikologi kognitif.

E. Batasan Masalah
Agar masalah tidak melebar ke pembahasan yang lebih jauh dari yang disajikan, maka penyusun membatasi masalah hanya pada:
1.    Perkembangan teori belajar mengajar dan implikasinya pada kegiatan belajar mengajar.
2.    Pengertian aliran psikologi tingkah laku dan pendapat para ahli.
3.    Pengertian aliran psikologi kognitif dan pendapat para ahli.







BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Teori Belajar Mengajar dan Implikasinya
Berikut ini adalah beberapa perkembangan teori belajar mengajar dan implikasinya:
1.  Teori Behaviorisme (tingkah laku / perilaku)
Aliran Behaviorisme adalah aliran tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Implikasinya terhadap pendidikan adalah sebagai berikut:
-       perlakuan terhadap individu didasarkan kepada tugas yang harus dilakukan sesuai dengan tingkat tahapan dan dalam pelaksanaannya harus ada ganjaran dan kedisiplinan.
-       Motivasi belajar berasal dari luar (external) dan harus terus menerus dilakukan agar motivasi tetap terjaga.
-       Tujuan kurikuler berpusat pada pengetahuan dan keterampilan akademis serta tingkah laku sosial.
-       Pengelolaan kelas berpusat pada guru dengan interaksi sosial sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan merupakan tujuan utama yang hendak dicapai.
-       Peserta didik cenderung pasif.
2. Teori Kognitivisme (Akal pikiran / otak)
Pada aliran ini perkembangan kognitif ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif  anak dengan lingkungan.
Implikasinya dalam proses pembelajaran adalah:
-       Perlakuan individu didasarkan pada tingkat perkembangan kognitif peserta didik.
-       Motivasi berasal dari dalam diri individu (intrinsik) yang timbul berdasarkan pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik.
-       Tujuan kurikuler difokuskan untuk mengembangkan keseluruhan kemampuan kognitif, bahasa, dan motorik dengan interaksi sosial berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan kecerdasan.
-       Bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik dengan guru sebagai fasillitator.
-       Partisipasi peserta didik sangat dominan guna meningkatkan sisi kognitif peserta didik.
3. Teori Konstruktivisme
Menurut teori konstruktivisme yang menjadi dasar bahwa siswa memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sendiri. Konsep pembelajaran menurut teori konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, dan pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehinggah mampu mendorong siswa mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna.
Implikasi teori konstruktivisme pada pembelajaran diantaranya:
-          Setiap guru akan pernah mengalami bahwa suatu materi telah dibahas dengan jelas-jelasnya namun masih ada sebagian siswa yang belum mengerti ataupun tidak mengerti materi yang diajarkan sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru dapat mengajar suatu materi kepada sisiwa dengan baik, namun seluruh atau sebagian siswanya tidak belajar sama sekali. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak harus diikuti dengan hasil yang baik pada siswanya. Karena, hanya dengan usaha yangkeras para sisiwa sedirilah para siswa akan betul-betul memahami suatu materi yang diajarkan.
-          Untuk mengajar dengan baik, guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkandan yang dibuat para sisiwa untuk mendukung model-model itu.
-          Siswa perlu mengkonstruksi pemahaman yang mereka sendiri untuk masing-masing konsep materi sehingga guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”, menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan pada siswa tetapi menciptakan situasi bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksi-konstruksi mental yang diperlukan.
-          Latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.
-          Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai dengan dirinya. Guru hanya sebagai fasilitator, mediator, dan teman yang membuat situasi kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
 4. Teori Humanistik (bakat)
Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila sipembelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain sipembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya .
Implikasinya terhadap pendidikan adalah sebagai berikut:
-          Perlakuan terhadap individu didasarkan akan kebutuhan individual dan kepribadian peserta didik.
-          Motivasi belajar berasal dari dalam diri (intrinsik) karena adanya keinginan untuk mengetahui.
-          Tujuan kurikuler mengutamakan pada perkembangandari segi sosial, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan untuk peka terhadap kebutuhan individu dan orang lain.
-          Untuk mengefektifkan mengajar maka pengajaran disusun dalam bentuk topik-topik terpadu berdasarkan pada kebutuhan peserta didik.
-          Partisipasi peserta didik sangat dominan.
-          Kegiatan belajar peserta didik mengutamakan belajar melalui pemahaman dan pengertian bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan.
B. Aliran Psikologi Tingkah Laku
Sebelum membahas psikologi tingkah laku alangkah lebih baik jika kita lebih dahulu membahas  tentang psikologi belajar mengajar, yang sifatnya masih umum. Psikologi belajar atau disebut pula dengan teori belajar adalah teori yang mempelajari perkembangan intelekual (mental) siswa yang terdiri dari dua hal, yaitu:
1.    uraian tentang apa yang terjadi dan diharapkan terjadi pada intelektual anak
2.    uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal-hal yang bisa dipikirkan pada usia tertentu
Jadi dalam proses belajar siswa merupakan subjek dan bukan objek. Psikologi tingkah laku didasarkan pada teori bahwa semua perilaku dipelajari melalui pengkondisian. Perilaku psikologi juga dikenal sebagai Behaviorisme, berpendapat bahwa semua perilaku yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan. Perilaku psikologi berteori bahwa semua perilaku dapat dipelajari dan dinilai tanpa mempertimbangkan keadaan mental internal.

Aliran psikologi tingkah laku menurut para ahli:
Teori Thorndike     : Menurut  hukum ini belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan.
Teori Skinner          : Bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak dalam melakukan pengulangan perilakunya itu.
Teori Ausubel         : Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai.
Teori Gagne            : Menurut Gagne dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh langsung oleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan aturan.

C. Aliran Psikologi Kognitif
         Psikologi kognitif adalah kajian studi ilmiah mengenai proses-proses mental atau pikiran yang mendasari kemampuan kita mempersepsikan dunia, memahami dan mengingat pengalaman kita, berkomunikasi dengan orang lain, dan mengendalikan perilaku kita, bagaimana informasi diperoleh, dipresentasikan dan ditransfermasikan sebagai pengetahuan. Psikologi kognitif juga disebut psikologi pemrosesan informasi. Tingkah laku seseorang didasarkan pada tindakan mengenal/ memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Prinsip dasar psikologi kognitif adalah belajar aktif, belajar lewat interaksi social, dan belajar lewat pengalaman sendiri.
Di dalam dunia psikologi, mempelajari psikologi kognitif sangat diperlukan karena:
1.   Kognisi adalah proses mental atau pikiran yag berperan penting dan mendasar bagi studi-studi psikologi manusia.
2.   Pandangan psikologi kognitif banyak mempengaruhi bidang-bidang psikologi yang lain, misalnya pendekatan kognitif banyak digunakan di dalam psikologi konseling, psikologi konsumen dan lain-lain.
3.   Melalui prinsip-prinsip kognisi, seseorang dapat mengelola informasi secara efisien dan terorganisasikan dengan baik.
Perkembangan teori psikologi kognitif antara lain adalah sebagai berikut:
1.    Teori  Gestalt yang menyatakan bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Konsep yang penting dalam teori ini INSIGHT, yaitu: pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan antara bagian-bagian di dalam suatu situasi masalah.
2.    Teori Lewin mengembangkan teori belajar berdasarkan Life Space (dunia psikologis dari kehidupan). Tingkah laku merupakan hasil dari interaksi antar kekuatan baik dari dalam (kebutuhan, tekanan batin) maupun dari luar (tantangan, permasalahan).
3.    Teori Jean Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.
4.    JA.Brunner yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di kelas. Maksud dari Discovery Learning yaitu siswa mengorganisasikan metode penyajian bahwa dengan cara dimana anak dapat mempelajari bahan itu, sesuai dengan tingkat kemampuan.

Implikasi perkembagan teori kognitif dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
-          Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
-          Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
-          Berikan peluang kepada anak agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya dan mau berbicara ataupun berdiskusi dengan teman-temannya.
Pengaplikasian teori kognitif dalam proses belajar mengajar bergantung pada akomodasi. Siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tidak dapat belajar dari apa yang telah diketahui saja. Dengan adanya area baru, siswa akan berusaha agar dapat berakomodasi.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.    Implikasi perkembangan teori belajar mengajar sekarang sangatlah beragam. Guru dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Seperti teori behavioristik, dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar, karakteristik siswa, dan sebagainya.  Teori kognitif, pembelajaran lebih dititik beratkan pada perolehan pengetahuan oleh siswa, guru membimbing siswa untuk memiliki pengetahuan yang hendak dituju. teori konstruktivisme, pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, dan pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong siswa mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna. Sedangkan teori humanistik dalam belajar mengajar yang memanusiakan manusia. Guru mengakui siswa sebagai individu yang punya kemampuan dan harga diri.
2.    Psikologi tingkah laku juga dikenal sebagai behaviorisme, berpendapat bahwa semua perilaku yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan. Perilaku psikologi berteori bahwa semua perilaku dapat dipelajari dan dinilai tanpa mempertimbangkan keadaan mental internal.
3.    Psikologi kognitif adalah salah satu cabang dari psikologi dengan pendekatan kognitif untuk memahami perilaku manusia. Psikologi kognitif mempelajari tentang cara manusia menerima, mempersepsi, mempelajari, menalar, mengingat dan berfikir tentang suatu informasi.
B. Saran
Dengan melihat beberapa perkembangan teori belajar mengajar yang telah kita pelajari, hendaknya kita sebagai guru pengajar harus lebih jeli dalam menggunakan teori belajar yang tepat sehingga dalam penerapannya kepada peserta didik dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dengan memahami teori-teori belajar beserta implikasinya, aliran psikologi tingkah laku dan aliran psikologi kognitif yang berkembang di dunia pendidikan, niscaya akan menghasilkan output-output yang lebih berkualitas dan tujuan pendidikan akan benar-benar tercapai.
DAFTAR PUSTAKA

Ø  http://juprimalino.blogspot.com/2011/07/teori-belajar-psikologi-kognitif.html
( diakses pada tanggal 30 September 2011)
Ø  http:// Aliran-aliran Psikologi dan Implikasinya Terhadap KBM.html              
           ( diakses pada tanggal 1 Oktober 2011)
( diakses pada tanggal 1 Oktober 2011)
( diakses pada tanggal 1 Oktober 2011)





         



Rabu, 16 November 2011

MAKALAH BELAJAR PEMBELAJARAN


MAKALAH

 “Konsep Belajar Menurut Islam”


 















Disusun Oleh:

WIWK SETIYOWATI
(09321193)

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
OKTOBER 2011

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas Makalah Konsep Belajar menurut Islamdalam waktu yang telah ditentukan.
Maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu buku panduan mahasiswa dan mahasiswi  khususnya di dalam mata kuliah “Belajar dan Pembelajaran”
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kesalahan-kesalahan, baik dari segi pengetikan maupun materi yang disajikan oleh sebab itu, saran dan kritik dari semua pihak yang terkait sangat diharapkan.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya. Tidak lupa pula penyusun haturkan permohonan maaf  sebesar-besarnya apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kata-kata yang salah dan tidak sesuai.


Ponorogo, Oktober  2011


P e n y u s u n






BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Pada dasarnya, sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap Muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Banyak nash al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menyebutkan juga keutamaan mencari ilmu dan orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya motivasi seorang Muslim untuk mencari ilmu adalah dorongan ruhiyah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata. Seorang Muslim yang giat belajar karena terdorong oleh keimanannya, bahwa Allah Swt sangat cinta dan memuliakan orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu di dunia dan di akhirat.
    Betapa pentingnya pendidikan, karena hanya dengan proses pendidikanlah manusia dapat mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang mulia, melalui pemberdayaan potensi dasar dan karunia yang telah diberikan Allah. Apabila semua itu dilupakan dengan mengabaikan pendidikan, manusia akan kehilangan jati dirinya.
           Dalam Islam, pentingnya pendidikan tidak semata-mata mementingkan individu, melainkan erat kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Konsep belajar atau pendidikan dalam Islam berkaitan erat dengan lingkungan dan kepentingan umat. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan senantiasa dikorelasikan dengan kebutuhan lingkungan, dan lingkungan dijadikan sebagai sumber belajar. Seorang peserta didik yang diberi kesempatan untuk belajar yang berwawasan lingkungan akan menumbuhkembangkan potensi manusia sebagai pemimpin.

B. Rumusan Pertanyaan
             Dalam penulisan makalah ini, rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut:
1. Jelaskan apa yang dimaksud belajar menurut perspektif agama Islam!
2. Apakah yang dimaksud dengan Konsep pendidikan Islam?
3. Konsep belajar menurut Al-Quran dan hadits, Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika?


C. Tujuan Penulisan
           Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.    Agar pembaca mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar menurut perspektif Islam.
2.    Agar pembaca mengetahui dan memahami konsep pendidikan islam.
3.    Agar pembaca mengetahui dan memahami konsep belajar menurut Al-Qur’an dan Hadits.
D. Batasan Masalah
           Batasan masalah pada makalah ini agar masalah tidak melebar ke pembahasan yang lebih jauh dari yang disajikan, maka penyusun membatasi masalah hanya pada :
1.     Konsep Belajar menurut Islam.
2.     Konsep Belajar menurut Al-Qur’an dan Hadits.
3.     Konsep Belajar menurut tokoh-tokoh Islam.



BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Belajar Menurut Islam
Konsep adalah gambaran mental dari obyek, suatu pemikiran, ide, suatu gagasan yang mempunyai derajat kekongkritan, proses ataupun yang diluar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Sedangkan  belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu.
Konsep pendidikan Islam yaitu suatu ide atau gagasan  untuk menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya  sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktivitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. Dengan cara menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas  dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji.

B. Konsep belajar menurut Al-Qur’an dan Hadits
            Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Perlu diketahui bahwa setiap apa yang dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia. Beberapa hal penting yang berkaitan dengan belajar antara lain:
  1. Bahwa orang yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk memecahkan segala masalah yang dihadapinya di kehidupan dunia.
  2. Manusia dapat mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat membenci orang yang tidak memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya karena setiap apa yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya.
  3. Dengan ilmu yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya di mata Allah. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.

C. Konsep Strategi Belajar Mengajar yang Islami
        Strategi Belajar Mengajar Menurut Konsep islami, pada dasarnya sebagai berikut:
1. Proses belajar mengajar dilandasi dengan kewajiban yang dikaitkan dengan niat ibadah kepada Allah.
2. Konsep strategi belajar mengajar memerlukan kreativitas baik metodologi maupun desain pembelajaran.
3. Mendidik dengan ketauladanan yang baik.
4. Membutuhkan pembiasaan-pembiasaan untuk mencapai hasil yang maksimal.
5. Mengadakan evaluasi.
6. Dalam proses pembelajaran, belajar mengajar harus diawali dan diakhiri dengan do’a.
7. Dalam Al-Qur’an, cara belajar yang membutuhkan usaha manusia, sebagaimana dikemukakan oleh Najati (2005), dapat melalui meniru (imitasi), coba-coba (trial and eror), atau melalui pemikiran dan membuat konklusi logis.

D. Konsep Belajar Menurut Tokoh-tokoh Islam
1.    Al-Ghazali
Menurut Al-Ghazali  proses belajar adalah usaha orang itu untuk mencari ilmu karena itu belajar itu sendiri tidak terlepas dari ilmu yang akan dipelajarinya. Berkaitan dengan ilmu,  Al-Ghazali berpendapat ilmu yang dipelajari dapat dari dua segi, yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai objek.
Pertama, sebagai proses, Al-Ghazali  megklasifikasikan ilmu menjadi tiga. Pertama ilmu hissiyah yakni ilmu yang didapatkan melalui penginderaan, misalnya seseorang belajar melalui alat pendengaran, penciuman, maupun penglihatan. Kedua, ilmu Aqliyah yakni ilmu yang didapatkan melalui kegiatan berfikir, misalnya masalah teoritis yang berhubungan dengan hal-hal abstrak maupun non-abstrak. Ketiga, ilmu Ladunni yakni ilmu yang didapatkan langsung dari Tuhan tanpa melalui proses penginderaan maupun berfikir melainkan melalui hati dalam bentuk ilham.
Kedua, sebagai objek, Al-Ghazali   membagi ilmu menjadi tiga macam. Pertama, ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik sedikit maupun banyak seperti sihir. Kedua, ilmu pengetahuan yang terpuji baik sedikit maupun banyak. Dan Ketiga, ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu terpuji tetapi bila mendalaminya tercela seperti ilmu ketuhanan, cabang ilmu filsafat. Karena bila ilmu-ilmu tersebut didalami akan menimbulkan kekufuran. (Wahyuni dan Baharuddin, 2010).
       Menurut Al-Ghazali  ilmu terdiri dari dua jenis, yaitu ilmu kasbi dan ilmu ladunni. Ilmu asbi adalah cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan.  Ilmu Ladunni adalah ilmu yang diperoleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu. Menurut Al-Ghazali   pendekatan belajar dalam menuntut ilmu dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan ta’lim insani dan ta’lim rabbani. (Wahyuni dan Baharuddin, 2010)
Pendekatan ta’lim insani adalah belajar dengan bimbingan manusia. Pendekatan ini merupakan cara umum yang dilakukan orang, dan biasanya dilakukan dengan menggunakan alat-alat inderawi yang diakui oleh orang-orang berakal. Taklim Insani dibagi menjadi 2 yaitu:
·         Proses eksternal melalui belajar mengajar
Dalam proses belajar mengajar sebenarnya tejadi aktivitas eksplorasio pengetahuan sehingga menghasikan perubahan-perubahan perilaku. Seorang guru mengeksplorasi ilmu yang dimilikinya untuk diberikan kepada muridnya, sedangkan murid menggali ilmu dari gurunya agar ia mendapatkan ilmu.
·         Proses internal melalui proses tafakur
Tafakur diartikan dengan membaca realitas dalam berbagai dimensinya wawasan spiritual dan penguasaan pengetahuan hikmah. Proses tafakur ini dapat dilakukan apabila jiwa dalam keadaan suci. Dengan membersihkan qalbu dan mengosongkan egoisme dan keakuannya ke titik nol, maka ia berdiri dihadapan Tuhan, seperti seorang murid berhadapan dengan seorang guru. Tuhan hadir membukakan pintu kebenaran dan manusia masuk kedalamnya.
Menuntut ilmu harus melalui proses berfikir terhadap alam semesta karena ilmu itu sendiri merupakan hasil dari proses berfikir (jalaluddin, 1996).

2.    Al-Zarnuji
       Al-Zarnuji membagi ilmu pengetahuan dalam empat kategori. Pertama, ilmu Fardhu ’ain yaitu ilmu yang wajib di pelajari oleh setiap muslim secara individual.
1.    Pertama yang harus dipelajari adalah ilmu tauhid yaitu ilmu yang menerangkan keesaan Allah SWT beserta sifat-sifatnya. Baru kemudian mempelajari ilmu fiqih, shalat, zakat, haji dan lain-lain kesemuanya berkaitan dengan tata cara beribadah kepada Allah SWT.
2.    Kedua, ilmu fardhu kifayah yaitu ilmu yang kebutuhannya hanya dalam saat-saat tertentu saja, misalnya ilmu shalat jenazah. Dengan demikian, seandainya ada sebagian penduduk kampung telah  melaksanakan fardhu kifayah tersebut, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Namun sebaliknya, bila tidak maka semuanya berdosa.
3.    Ketiga, Ilmu haram yaitu ilmu yang haram untuk dipelajari, seperti ilmu nujum (ilmu perbintagan yang biasanya digunakan untuk meramal) Sebab, hal itu sesungguhnya tiada bermanfaat dan justru membawao marabahaya, karena lari dari kenyataan takdir Allah SWT tidak akan mungkin terjadi.
4.    Keempat, ilmu jawas yaitu ilmu yang yang hukum mempelajarinya boleh karena bermanfaat bagi manusia. Misalnya ilmu kedokteran, yang dengan mempelajarinya akan diketahui sebab dari segala sebab (sumber penyakit). Hal ini diperbolehkan karena Rasulallah SAW sendiri juga berobat.


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1. Menurut perspektif agama islam, bahwa belajar itu adalah hukumnya wajib bagi setiap umat  baik bagi laki-laki muapun perempuan. Agama islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Perlu diketahui bahwa setiap apa yang dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia.
2. Konsep pendidikan Islam yaitu suatu ide atau gagasan  untuk menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya  sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan.
3. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.

B. Saran
Untuk membuat pendidikan ini berjalan lebih baik lagi, para siswa harus meningkatkan belajarnya dan aktif ketika pelajaran berlangsung, dan bagi seorang guru harus menggunakan metode pengajaran yang lebih baik lagi, ketika pembelajaran berlangsung. Yang membuat siswa merasa senang di kelas dan menggugah selera siswa untuk lebih rajin dalam belajar baik dalam kelas maupun nanti ketika di rumah. Untuk itu cara pengajarannya pun harus yang menarik agar tidak membuat jenuh.




DAFTAR PUSTAKA


Baharuddin dan Wahyuni, E.N., 2010, Belajar dan Teori Belajar, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group.

http://al-imamu-imammalik.blogspot.com/2010/12/konsep-belajar-menurut-islam.html