jelek

jelek
plaza kampus lantai 3

Rabu, 16 November 2011

MAKALAH BELAJAR PEMBELAJARAN


MAKALAH

 “Konsep Belajar Menurut Islam”


 















Disusun Oleh:

WIWK SETIYOWATI
(09321193)

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
OKTOBER 2011

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas Makalah Konsep Belajar menurut Islamdalam waktu yang telah ditentukan.
Maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu buku panduan mahasiswa dan mahasiswi  khususnya di dalam mata kuliah “Belajar dan Pembelajaran”
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kesalahan-kesalahan, baik dari segi pengetikan maupun materi yang disajikan oleh sebab itu, saran dan kritik dari semua pihak yang terkait sangat diharapkan.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya. Tidak lupa pula penyusun haturkan permohonan maaf  sebesar-besarnya apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kata-kata yang salah dan tidak sesuai.


Ponorogo, Oktober  2011


P e n y u s u n






BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Pada dasarnya, sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap Muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Banyak nash al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menyebutkan juga keutamaan mencari ilmu dan orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya motivasi seorang Muslim untuk mencari ilmu adalah dorongan ruhiyah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata. Seorang Muslim yang giat belajar karena terdorong oleh keimanannya, bahwa Allah Swt sangat cinta dan memuliakan orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu di dunia dan di akhirat.
    Betapa pentingnya pendidikan, karena hanya dengan proses pendidikanlah manusia dapat mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang mulia, melalui pemberdayaan potensi dasar dan karunia yang telah diberikan Allah. Apabila semua itu dilupakan dengan mengabaikan pendidikan, manusia akan kehilangan jati dirinya.
           Dalam Islam, pentingnya pendidikan tidak semata-mata mementingkan individu, melainkan erat kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Konsep belajar atau pendidikan dalam Islam berkaitan erat dengan lingkungan dan kepentingan umat. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan senantiasa dikorelasikan dengan kebutuhan lingkungan, dan lingkungan dijadikan sebagai sumber belajar. Seorang peserta didik yang diberi kesempatan untuk belajar yang berwawasan lingkungan akan menumbuhkembangkan potensi manusia sebagai pemimpin.

B. Rumusan Pertanyaan
             Dalam penulisan makalah ini, rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut:
1. Jelaskan apa yang dimaksud belajar menurut perspektif agama Islam!
2. Apakah yang dimaksud dengan Konsep pendidikan Islam?
3. Konsep belajar menurut Al-Quran dan hadits, Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika?


C. Tujuan Penulisan
           Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.    Agar pembaca mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar menurut perspektif Islam.
2.    Agar pembaca mengetahui dan memahami konsep pendidikan islam.
3.    Agar pembaca mengetahui dan memahami konsep belajar menurut Al-Qur’an dan Hadits.
D. Batasan Masalah
           Batasan masalah pada makalah ini agar masalah tidak melebar ke pembahasan yang lebih jauh dari yang disajikan, maka penyusun membatasi masalah hanya pada :
1.     Konsep Belajar menurut Islam.
2.     Konsep Belajar menurut Al-Qur’an dan Hadits.
3.     Konsep Belajar menurut tokoh-tokoh Islam.



BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Belajar Menurut Islam
Konsep adalah gambaran mental dari obyek, suatu pemikiran, ide, suatu gagasan yang mempunyai derajat kekongkritan, proses ataupun yang diluar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Sedangkan  belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu.
Konsep pendidikan Islam yaitu suatu ide atau gagasan  untuk menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya  sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktivitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. Dengan cara menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas  dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji.

B. Konsep belajar menurut Al-Qur’an dan Hadits
            Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Perlu diketahui bahwa setiap apa yang dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia. Beberapa hal penting yang berkaitan dengan belajar antara lain:
  1. Bahwa orang yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk memecahkan segala masalah yang dihadapinya di kehidupan dunia.
  2. Manusia dapat mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat membenci orang yang tidak memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya karena setiap apa yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya.
  3. Dengan ilmu yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya di mata Allah. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.

C. Konsep Strategi Belajar Mengajar yang Islami
        Strategi Belajar Mengajar Menurut Konsep islami, pada dasarnya sebagai berikut:
1. Proses belajar mengajar dilandasi dengan kewajiban yang dikaitkan dengan niat ibadah kepada Allah.
2. Konsep strategi belajar mengajar memerlukan kreativitas baik metodologi maupun desain pembelajaran.
3. Mendidik dengan ketauladanan yang baik.
4. Membutuhkan pembiasaan-pembiasaan untuk mencapai hasil yang maksimal.
5. Mengadakan evaluasi.
6. Dalam proses pembelajaran, belajar mengajar harus diawali dan diakhiri dengan do’a.
7. Dalam Al-Qur’an, cara belajar yang membutuhkan usaha manusia, sebagaimana dikemukakan oleh Najati (2005), dapat melalui meniru (imitasi), coba-coba (trial and eror), atau melalui pemikiran dan membuat konklusi logis.

D. Konsep Belajar Menurut Tokoh-tokoh Islam
1.    Al-Ghazali
Menurut Al-Ghazali  proses belajar adalah usaha orang itu untuk mencari ilmu karena itu belajar itu sendiri tidak terlepas dari ilmu yang akan dipelajarinya. Berkaitan dengan ilmu,  Al-Ghazali berpendapat ilmu yang dipelajari dapat dari dua segi, yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai objek.
Pertama, sebagai proses, Al-Ghazali  megklasifikasikan ilmu menjadi tiga. Pertama ilmu hissiyah yakni ilmu yang didapatkan melalui penginderaan, misalnya seseorang belajar melalui alat pendengaran, penciuman, maupun penglihatan. Kedua, ilmu Aqliyah yakni ilmu yang didapatkan melalui kegiatan berfikir, misalnya masalah teoritis yang berhubungan dengan hal-hal abstrak maupun non-abstrak. Ketiga, ilmu Ladunni yakni ilmu yang didapatkan langsung dari Tuhan tanpa melalui proses penginderaan maupun berfikir melainkan melalui hati dalam bentuk ilham.
Kedua, sebagai objek, Al-Ghazali   membagi ilmu menjadi tiga macam. Pertama, ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik sedikit maupun banyak seperti sihir. Kedua, ilmu pengetahuan yang terpuji baik sedikit maupun banyak. Dan Ketiga, ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu terpuji tetapi bila mendalaminya tercela seperti ilmu ketuhanan, cabang ilmu filsafat. Karena bila ilmu-ilmu tersebut didalami akan menimbulkan kekufuran. (Wahyuni dan Baharuddin, 2010).
       Menurut Al-Ghazali  ilmu terdiri dari dua jenis, yaitu ilmu kasbi dan ilmu ladunni. Ilmu asbi adalah cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan.  Ilmu Ladunni adalah ilmu yang diperoleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu. Menurut Al-Ghazali   pendekatan belajar dalam menuntut ilmu dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan ta’lim insani dan ta’lim rabbani. (Wahyuni dan Baharuddin, 2010)
Pendekatan ta’lim insani adalah belajar dengan bimbingan manusia. Pendekatan ini merupakan cara umum yang dilakukan orang, dan biasanya dilakukan dengan menggunakan alat-alat inderawi yang diakui oleh orang-orang berakal. Taklim Insani dibagi menjadi 2 yaitu:
·         Proses eksternal melalui belajar mengajar
Dalam proses belajar mengajar sebenarnya tejadi aktivitas eksplorasio pengetahuan sehingga menghasikan perubahan-perubahan perilaku. Seorang guru mengeksplorasi ilmu yang dimilikinya untuk diberikan kepada muridnya, sedangkan murid menggali ilmu dari gurunya agar ia mendapatkan ilmu.
·         Proses internal melalui proses tafakur
Tafakur diartikan dengan membaca realitas dalam berbagai dimensinya wawasan spiritual dan penguasaan pengetahuan hikmah. Proses tafakur ini dapat dilakukan apabila jiwa dalam keadaan suci. Dengan membersihkan qalbu dan mengosongkan egoisme dan keakuannya ke titik nol, maka ia berdiri dihadapan Tuhan, seperti seorang murid berhadapan dengan seorang guru. Tuhan hadir membukakan pintu kebenaran dan manusia masuk kedalamnya.
Menuntut ilmu harus melalui proses berfikir terhadap alam semesta karena ilmu itu sendiri merupakan hasil dari proses berfikir (jalaluddin, 1996).

2.    Al-Zarnuji
       Al-Zarnuji membagi ilmu pengetahuan dalam empat kategori. Pertama, ilmu Fardhu ’ain yaitu ilmu yang wajib di pelajari oleh setiap muslim secara individual.
1.    Pertama yang harus dipelajari adalah ilmu tauhid yaitu ilmu yang menerangkan keesaan Allah SWT beserta sifat-sifatnya. Baru kemudian mempelajari ilmu fiqih, shalat, zakat, haji dan lain-lain kesemuanya berkaitan dengan tata cara beribadah kepada Allah SWT.
2.    Kedua, ilmu fardhu kifayah yaitu ilmu yang kebutuhannya hanya dalam saat-saat tertentu saja, misalnya ilmu shalat jenazah. Dengan demikian, seandainya ada sebagian penduduk kampung telah  melaksanakan fardhu kifayah tersebut, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Namun sebaliknya, bila tidak maka semuanya berdosa.
3.    Ketiga, Ilmu haram yaitu ilmu yang haram untuk dipelajari, seperti ilmu nujum (ilmu perbintagan yang biasanya digunakan untuk meramal) Sebab, hal itu sesungguhnya tiada bermanfaat dan justru membawao marabahaya, karena lari dari kenyataan takdir Allah SWT tidak akan mungkin terjadi.
4.    Keempat, ilmu jawas yaitu ilmu yang yang hukum mempelajarinya boleh karena bermanfaat bagi manusia. Misalnya ilmu kedokteran, yang dengan mempelajarinya akan diketahui sebab dari segala sebab (sumber penyakit). Hal ini diperbolehkan karena Rasulallah SAW sendiri juga berobat.


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1. Menurut perspektif agama islam, bahwa belajar itu adalah hukumnya wajib bagi setiap umat  baik bagi laki-laki muapun perempuan. Agama islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Perlu diketahui bahwa setiap apa yang dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia.
2. Konsep pendidikan Islam yaitu suatu ide atau gagasan  untuk menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya  sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan.
3. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.

B. Saran
Untuk membuat pendidikan ini berjalan lebih baik lagi, para siswa harus meningkatkan belajarnya dan aktif ketika pelajaran berlangsung, dan bagi seorang guru harus menggunakan metode pengajaran yang lebih baik lagi, ketika pembelajaran berlangsung. Yang membuat siswa merasa senang di kelas dan menggugah selera siswa untuk lebih rajin dalam belajar baik dalam kelas maupun nanti ketika di rumah. Untuk itu cara pengajarannya pun harus yang menarik agar tidak membuat jenuh.




DAFTAR PUSTAKA


Baharuddin dan Wahyuni, E.N., 2010, Belajar dan Teori Belajar, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group.

http://al-imamu-imammalik.blogspot.com/2010/12/konsep-belajar-menurut-islam.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar